Goede Morgen Suriname

Goede Morgen !

Sapaan itu membuat saya sejenak terdiam di pintu masuk area sholat. Seorang ibu menyampaikannya dengan senyum ramah, selamat pagi dalam bahasa Belanda. Barangkali ia mengira saya orang Suriname keturunan Jawa. Di negeri ini, tebakan semacam itu bukan hal yang aneh. Kemarin saya menyapa staff lokal yang menjemput kami di bandara dengan Bahasa Melayu, karena saya kira beliau orang Malaysia, padahal beliau orang Jawa Suriname yang hanya bisa berbahasa Belanda, Inggris dan tentunya Jawa.

Pagi itu, Onafhankelijkheidsplein dipenuhi umat Muslim dari Paramaribo dan daerah sekitarnya. Lapangan luas yang juga disebut Independence Square, terletak tepat di depan Istana Kepresidenan Suriname, di pusat kota Paramaribo, ibukota Suriname. Suasananya tak jauh berbeda dengan sholat Ied di Indonesia. Para wanita berkerudung seperti orang Indonesia, memakai gamis dan mukena. Kaum pria kebanyakan memakai sarung dan juga kopiah. Ketika saya mengunduh photo di Instagram, beberapa teman mengira saya sedang pulang kampung ke Bandung.

Pekerjaan membawa saya ke Suriname, negara terkecil di Amerika Selatan yang kerap luput dari peta perjalanan banyak orang. Namun justru di sinilah saya menemukan kejutan-kejutan kecil tentang dunia yang terasa begitu luas sekaligus dekat. Ketika saya mengetahui rencana perjalanan ini sejujurnya saya sangat senang, kapan lagi kan ada kesempatan menelusuri jejak orang Jawa, sejarah migrasi dan kolonialisme di benua Amerika. Negara yang dari dulu membuat saya penasaran, kenapa banyak orang Jawa di Suriname ?

Sambil menunggu waktu sholat saya berbincang dengan jamaah di sebelah saya, yang juga awalnya menegur saya dalam Bahasa Belanda. Ketika mengetahui saya berasal dari Indonesia dia sangat senang, penuh semangat dia mengenalkan saya dengan beberapa jamaah lainnya. Beberapa Ibu setengah baya mengajak saya berbicara Bahasa Jawa, ada juga yang menegur saya dalam Bahasa Indonesia.

Tanpa diminta mereka bercerita tentang asal-usul mereka, kebanyakan adalah generasi ketiga dan keempat etnis Jawa Suriname. Menyenangkan sekali berbincang dengan mereka, seorang Ibu bahkan mengajak saya datang ke rumah untuk menikmati makanan khas Lebaran. Saya masak opor ayam katanya, di hotel tidak ada kan. Tawaran menarik yang terpaksa saya tolak dengan berat hati. Suriname termasuk ke dalam negara dengan resiko tinggi dan perusahaan tempat saya bekerja betul-betul membatasi pergerakan kami disini.

Ibu yang lain bercerita kalau dia tidak berbahasa Bahasa Indonesia, tapi sekarang sedang belajar, ada kelas Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa yang di kelola oleh Vereniging Herdenking Javaanse Immigratie (VHIJ), organisasi budaya Jawa terbesar di Suriname yang semua anggotanya keturunan imigran dari Jawa. Mereka bukan saja belajar bahasa, ada juga kelas menari dan kontes kecantikan Putri Jawa Suriname yang diselenggarakan setiap tahun.

Di antara barisan jamaah saya merasa menjadi bagian dari cerita panjang, merasa asing karena perbedaan bahasa tapi sekaligus menemukan rumah di tempat yang jauh di antara orang-orang yang bahkan belum pernah saya kenal sebelumnya. Di Suriname, ribuan kilometer dari Jawa, saya menemukan potongan-potongan yang terasa begitu akrab, dalam senyum mereka, dalam cerita tentang opor ayam, dalam usaha mereka belajar kembali bahasa leluhur yang tidak pernah benar-benar mereka tinggalkan.

Saya datang sebagai orang asing, dibatasi oleh aturan dan jarak, namun pulang dengan perasaan yang berbeda. Bahwa sejarah tidak hanya hidup di buku, tetapi bernafas di dalam diri orang-orang yang terus merawatnya, generasi demi generasi. Dan di antara mereka, saya menyadari sesuatu yang sederhana namun dalam: bahwa identitas bisa terpisah oleh jarak dan waktu, tetapi tidak pernah benar-benar hilang.

Mungkin suatu hari nanti, saya akan kembali. Dan kali itu, saya berharap bisa menerima undangan makan opor ayam yang sempat saya tolak, bukan sebagai tamu, tetapi sebagai seseorang yang pulang.

Bedank Ibu !

Paramaribo Trip, 15-22 Juni 2024.

Leave a Reply