I’m May, an Indonesian shaped by many cities, many chapters, and many choices. Born and raised in Bandung, my journey has taken me through Jakarta, Balikpapan, and now Kuala Lumpur. I love books, travel, cooking, and words. Writing has always been my quiet companion, a place where stories breathe and memories stay. Life didn’t follow the path I once imagined, but every turn has shaped who I am today.
Sebetulnya saya lahir dan dibesarkan di Cimahi, kota kecil yang sangat dekat dan berbatasan langsung dengan Bandung. Mirip Bandung, tapi bukan Bandung, dan kerap disebut sebagai Bandung coret. Baru ketika menjadi anak SMA, akhirnya saya bisa mengaku sebagai orang Bandung. Tiga tahun menjadi anak Gardujati lalu dilanjutkan lima tahun menjadi anak Jalan Ganesha. Walaupun sampai sekarang, pertanyaan yang sama masih sering muncul : “Oh May dari Cimahi ? Bandung coret dong”.
Di Cimahi dan Bandung, 22 tahun kehidupan terasa sederhana. Tidak selalu mudah, tentu saja, dengan segala keterbatasan. Tapi saya tahu jalan pulang tanpa harus berpikir. Tahu ke mana harus pergi saat ingin sendiri. Dan tahu siapa saya atau setidaknya, saya pikir saya tahu. Kedua kota ini bukan hanya tempat saya lahir dan dibesarkan, tapi juga tempat di mana versi pertama dari diri saya terbentuk.
Lima tahun di Jalan Ganesha membawa pengaruh yang sangat besar. Saya ikut mengamini bahwa Kampus ITB adalah tempat saya dibina menjadi manusia dewasa. Bukan hanya tempat menuntut ilmu, tapi juga tempat saya belajar membuat keputusan, belajar berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang, di jurusan, di himpunan, dan di unit kemahasiswaan. Belajar menjadi pemimpin dan dipimpin. Belajar berbicara sekaligus mendengarkan.

ITB adalah paket lengkap kawah candradimuka bagi mahasiswa yang mau bertumbuh, mahasiswa yang tidak sekadar mengejar kelulusan dengan IPK sempurna dan pekerjaan setelahnya. Begitu banyak kisah manis yang tak terlupakan. Sampai detik ini, saya masih merasa sangat bersyukur untuk lima tahun bersama sahabat-sahabat terbaik.
Saya masih ingat jelas suatu malam di SEL KMPA, ketika saya menyampaikan laporan pertanggungjawaban sebagai Ketua KMPA Ganesha. Secara umum, kinerja saya dinilai excellent. Kegiatan kaderisasi berjalan lancar, dan kami berhasil merekrut lebih dari 30 anggota muda. Kondisi keuangan organisasi sangat baik. Kami beberapa kali mengadakan seminar dan mendapatkan banyak sponsor.

Tapi ada satu feedback dari sahabat saya, Risang, yang selalu saya ingat sampai sekarang:
“Kamu harus belajar mendelegasikan pekerjaan. Jangan semua kamu kerjakan sendiri.”
Apa yang Risang katakan itu 100% benar. Kadang-kadang, atau mungkin hampir selalu, saya ini terlalu rajin. Semua ingin saya kerjakan sendiri. Bukan karena tidak percaya pada orang lain, tapi karena saya suka, dan cenderung perfeksionis. Nasihat itu sangat berharga, dan masih terasa relevan sampai hari ini. May terkadang kesulitan mendelegasikan pekerjaan, terus belajar dan berproses ya May.
Lalu hidup mulai bergerak. Jakarta datang sebagai perubahan pertama yang terasa besar. Kota itu mengajarkan saya bahwa dunia tidak selalu berjalan pelan. Hidup terasa lebih cepat dan kadang melelahkan.
Di Jakarta, saya belajar menyesuaikan diri, belajar menjadi mandiri, mengambil keputusan yang lebih besar, dan lebih mengenal sisi diri saya yang sebelumnya belum pernah saya temui.
Jakarta tidak selalu nyaman. Tapi justru di sanalah saya mulai bertumbuh dengan cara yang berbeda. Dan ternyata, mantra bahwa orang baik itu ada dimana saja benar adanya. Saya selalu dipertemukan dengan orang-orang yang baik hati. Ibu HR yang memberikan tumpangan menginap ketika saya interview. Teman-teman, senior dan pimpinan di kantor yang sabar membimbing saya. Dan tentu saja, keluarga Ibu Kost di belakang kantor yang begitu baik.
Perjalanan hidup kemudian membawa saya ke Balikpapan, kota yang terasa sangat kontras dengan Jakarta. Di sana, hidup terasa lebih tenang. Tidak terburu-buru. Tidak terlalu bising. Balikpapan memberi saya ruang untuk bernapas. Ruang untuk melihat hidup dengan cara yang lebih sederhana. Pulang tepat waktu, bermain tenis bersama teman-teman atau lari sore di kompleks Gunung Dubbs. Atau perjalanan akhir pekan ke Samarinda sekedar untuk nonton bioskop dan makan di Mc Donald. Bahkan di Balikpapan seorang May memberanikan diri menjadi penari, bermain angklung dan belajar gamelan.


Di Balikpapan saya mulai menyadari bahwa setiap tempat tidak hanya memberi pengalaman baru, tapi juga membentuk cara saya melihat dunia, dan melihat diri saya sendiri.
Lalu saya kembali ke Jakarta. Ke tempat yang sama, tapi dengan perasaan yang berbeda. Hidup terasa lebih cepat lagi dan tetap bertumbuh. May yang dulu terbiasa pergi ke kantor memakai sepatu gunung dan celana jeans perlahan berubah.


Jakarta yang kedua memberi saya pengalaman yang jauh lebih dalam. Bukan hanya sebagai pegawai, tapi juga sebagai istri dan ibu. Ketika saya mengucapkan selamat tinggal untuk kedua kalinya, Jakarta masih terasa kejam. Tapi di saat yang sama, ternyata tidak mudah juga meninggalkannya.
Sekarang, saya berada di Kuala Lumpur. Kota ini terasa seperti bab baru yang belum sepenuhnya selesai saya pahami, dan mungkin memang harus terus ditulis. Mungkin inilah ujian kedewasaan yang sesungguhnya.


Dua belas tahun di negeri jiran telah berlalu, tapi rasa asing itu masih ada. Bersamaan dengan rasa penasaran. Ada hal-hal yang masih terasa baru, tapi perlahan mulai menjadi familiar. Tinggal di sini membuat saya sadar bahwa “rumah” tidak selalu tentang tempat saya dilahirkan. Rumah adalah tempat di mana saya terus bertumbuh.
Ketika saya melihat ke belakang, saya menyadari bahwa setiap tempat telah meninggalkan jejaknya dalam diri saya. Bandung memberi saya akar. Jakarta memberi saya keberanian. Balikpapan memberi saya ketenangan. Kuala Lumpur memberi saya ruang untuk menjadi versi diri saya yang baru dan lebih baik.
Saya bukan lagi orang yang sama seperti dulu. Dan mungkin, memang itulah inti dari semua perjalanan ini. Di antara semua persinggahan, saya tidak hanya berpindah tempat. Saya sedang belajar menjadi saya.

Tulisan pertama untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog di bulan Februari 2026 : Tempat/Lokasi yang Membentukku.

