Saya dan tiga orang teman baik sejak zaman kuliah punya grup WhatsApp bernama Dulunya Pendaki. Kami jarang ngobrol, tinggal berjauhan, dan bahkan sudah 20 tahun lebih saya tidak pernah bertemu salah seorang dari mereka. Tapi sekalinya ngobrol atau ketemu pastinya seru, kadang kami random ngobrol tentang masa lalu, tentang orang-orang baik yang dulu pernah menolong kami dan pastinya keseruan bolos kuliah untuk naik gunung ataupun jalan-jalan walaupun isi dompet pas-pasan.
Lalu saya jadi teringat, dulu saya memilih kuliah Geologi memang karena ingin banyak jalan-jalan. Tepatnya: naik gunung. Mata kuliah favorit saya tentu saja Vulkanologi. Sampai-sampai nilai ujian saya dulu 110. Saya juga tidak tahu kenapa bisa begitu, paling tinggi kan 100 haha. Bonusnya, saya dapat hadiah buku dengan tulisan motivasi dari Pak Dosen.
Sewaktu kuliah lapangan di Karang Sambung, saya pernah bilang ke salah satu dosen favorit saya bahwa saya pokoknya tidak mau kerja di oil company. “Mau jadi wartawan aja ya Mas !”. Tapi hidup, takdir, dan kesempatan membawa saya ke jalan yang lain. Mas Nuki merekomendasikan saya untuk kerja praktek di oil company and the rest is history, dan untuk ini semua saya tetap bersyukur, alhamdulillah. Matur nuwun untuk bantuannya ya Mas.
Walaupun kadang-kadang, seperti hari ini, saya suka bertanya-tanya: bagaimana ya kalau dulu saya benar-benar jadi wartawan atau malah jadi ahli vulkanologi? Mungkin sekarang saya sudah khatam naik 7 Summits Indonesia dan World Volcanic Seven Summits. Atau jalan-jalan keliling dunia, tetap saja, ujung-ujungnya tidak jauh dari jalan-jalan dan naik gunung kan.
Kembali tentang jalan-jalan, banyak sekali cerita random masa muda yang saya alami ketika jalan-jalan. Satu dua pernah saya tuliskan, beberapa teman menyarankan untuk menuliskannya sebagai buku, karena sesungguhnya banyak sekali cerita random karena May punya kalimat sakti : Orang baik ada dimana saja !.
Nebeng Bapak Sepatu dari Surabaya ke Bandung
September 2000. Saat itu saya sedang kuliah semester lima. Tiba-tiba sahabat baik saya, Mario, mengajak saya bolos kuliah pada dua minggu pertama awal semester. Penyebabnya sangat menggoda: ada undangan dari klub pecinta alam Universitas Lambung Mangkurat di Banjarmasin untuk mengikuti kegiatan Jelajah Meratus. Intinya, naik gunung dan jalan-jalan.
Singkat cerita, kami benar-benar pergi. Kami naik kereta ekonomi ke Surabaya, lalu melanjutkan perjalanan dengan kapal feri ke Banjarmasin. Perjalanannya panjang, tetapi semua terbayar lunas. Kegiatannya seru sekali. Kami diajak menjelajahi Pegunungan Meratus yang 26 tahun lalu masih sangat hijau dan belum menjadi sasaran illegal logging. Hutan tropis Kalimantan dengan pohon-pohon raksasa, ular dan pacet di mana-mana, tinggal bersama Suku Dayak Meratus, mengikuti acara adat, bamboo rafting di Loksado, makan ketupat Kandangan, hingga jalan-jalan di Banjarmasin mengunjungi pasar terapung di Sungai Martapura dan Pulau Kembang.

Setelah puas dan lelah berpetualang, saya akhirnya tersadar bahwa saya sudah terlalu lama bolos kuliah. Soal absensi sebenarnya tidak terlalu saya khawatirkan, teman-teman saya pasti bisa membantu menitip absen. Tetapi urusan praktikum berbeda. Tidak mungkin, kan, praktikum titip absen. Akhirnya saya bilang kepada Mario, “Kita pulang, yuk.”
Saya lupa detailnya, tetapi yang jelas Mario memilih tinggal beberapa hari lagi. Padahal saat itu Mario kuliah di dua jurusan, Pertambangan ITB semester 7 dan Psikologi Unpad semester 3. Karena takut harus mengulang praktikum dan dapat E, akhirnya saya memutuskan pulang lebih dulu. Mario membantu mencarikan tiket kapal, dan akhirnya saya pulang sendirian. Saya membawa satu ransel gunung, tas kamera, dan satu anjat (tas rotan khas Dayak) berisi mandau dan kain sasirangan. Anjat dan mandau itu hadiah dari panitia karena saya memenangkan lomba foto.
Awalnya semua baik-baik saja. Mario dan beberapa anggota pecinta alam Unlam mengantar saya ke pelabuhan. Menjelang Maghrib, kapal feri meninggalkan Banjarmasin. Saya agak lupa detail waktunya, tetapi yang pasti saya duduk di depan kantin, tidak berani tidur karena takut kamera hilang.
Tiba-tiba seorang petugas kapal menegur saya. Intinya dia marah-marah dan mengatakan bahwa saya tidak boleh membawa senjata tajam di kapal. Mandau hadiah lomba foto itu hendak diambil. Tentu saja saya keberatan. Saya menjelaskan bahwa itu hanya mandau hiasan dan saya mendapatkannya sebagai hadiah. Tetapi petugas kapal tidak bisa menerima penjelasan saya. Dia terus memarahi saya.
Lalu, entah dari mana, datang seorang bapak berusia sekitar tiga puluhan. Sebut saja Bapak Sepatu yang mencoba menolong saya dan ikut berargumen dengan petugas kapal. Setelah adu mulut beberapa saat, akhirnya petugas itu menyerah dan meninggalkan kami.
Bapak Sepatu lalu bertanya saya dari mana dan hendak ke mana. Setelah tahu saya akan pulang ke Bandung beliau menawarkan sesuatu yang terdengar sangat menguntungkan. “Pulang bareng saya saja. Saya bawa mobil, dan saya juga mau ke Bandung.”
May muda berusia 19 tahun yang naif tentu saja langsung mengiyakan. Selain gratis, saya juga bisa sampai ke Bandung lebih cepat. Kalau naik kereta api, saya masih harus menunggu semalam lagi di Surabaya.
Setibanya di Surabaya, saya naik mobil Bapak Sepatu. Dalam perjalanan, ia mengajak saya mampir dulu ke rumahnya, atau lebih tepatnya, rumah petak sederhana yang menjadi tempat kosnya di Surabaya. Saya masih ingat jelas rumah kecil di atas sungai. Saya lupa persis detailnya, tetapi yang pasti saya menurut saja saat diajak mampir. Dan tentu saja, tidak ada apa-apa yang terjadi haha. Bapak Sepatu hanya singgah sebentar untuk mengambil stok sepatu yang di tinggalkan di sana.
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Bandung. Sepanjang jalan,ia bercerita tentang bisnis sepatu dan toko sepatunya di Cibaduyut. Ia baru pulang dari mengantarkan pesanan sepatu ke beberapa kota di Kalimantan Selatan. Memang pada masa itu sepatu Cibaduyut sedang sangat terkenal. Sekali lagi, tidak ada hal buruk apa pun yang terjadi selama perjalanan. Bapak Sepatu bahkan mentraktir saya makan, mengantar saya sampai ke rumah, dan sebelum berpisah berkata, “Suatu hari mampir ke toko saya di Cibaduyut, ya. Kamu boleh pilih sepatu yang kamu suka.”
Sesampainya di rumah, saya bercerita kepada orang tua bahwa saya nebeng mobil orang dari Surabaya. Mami saya sangat terkejut dan langsung menginterogasi macam-macam. Mami bilang saya ini aneh dan terlalu berani. “Gimana kalau Bapak Sepatu itu punya niat jahat?” katanya. Saat itu, May yang polos memang tidak berpikir sejauh itu. Dalam pikiran saya sederhana saja: toh semuanya baik-baik saja.
Beberapa minggu kemudian, saya mengajak Mami ke Cibaduyut. Dan sesuai janjinya, saya benar-benar dapat sepatu baru. Haha.
Orang Baik di Bali dan Lombok
Masih di tahun 2000, tepatnya pada bulan Agustus saat libur semester, saya dan tiga sahabat memutuskan untuk jalan-jalan ke timur. Niat awal kami sebenarnya ingin mendaki Gunung Semeru di Jawa Timur. Namun karena jalur pendakian sedang ditutup, kami memilih melanjutkan perjalanan ke Lombok untuk mendaki Gunung Rinjani.
Kami berangkat naik kereta ekonomi dari Bandung, sempat singgah di rumah bude-nya Rini di Blitar, lalu melanjutkan perjalanan dengan bis sampai Denpasar. Sejak awal, rasanya perjalanan ini selalu dipenuhi pertolongan dari orang-orang baik, ada saja orang-orang baik yang menolong kami.
Di dalam bis rute Blitar–Denpasar, supir bis bertanya kami hendak pergi ke mana. Setelah tahu tujuan kami ke Lombok, ia menawarkan kami untuk tidur di kamarnya di pool bis Denpasar. Alasannya sederhana, tetapi masuk akal: kami akan tiba tengah malam, dan menurutnya tidak aman bagi kami menunggu di terminal pada jam segitu.
Dan tentu saja, kami mengiyakan. Malam itu kami pun menginap di kamar yang kecil dan sederhana. Keesokan harinya, kami diantar ke Terminal Obong dan dititipkan kepada temannya. Dari sana kami naik bis milik kenalan supir menuju Pelabuhan Padang Bai, menyeberang dengan kapal feri ke Lembar, Lombok, lalu melanjutkan perjalanan ke Senaru.
Senaru adalah salah satu titik awal pendakian Gunung Rinjani. Kami menginap semalam di depan pos pendakian, tidur di dalam tenda. Malam harinya, petugas pos berkata bahwa kami tidak boleh mendaki sendiri dan harus ditemani guide. Maksud mereka tentu baik, mereka khawatir dengan keselamatan kami, empat perempuan muda yang hendak mendaki tanpa pendamping. Sebulan sebelumnya, kata mereka, ada rombongan sebelas pendaki dari UI yang dibegal di Pelawangan Senaru, padahal mereka cowok semua !.
Mendengar itu, kami tentu bingung. Sejujurnya, kami memang tidak punya banyak uang. Saya sendiri saat itu hanya membawa sekitar seratus lima puluh ribu rupiah, uang hasil gaji KKN di Garut. Dan jumlah itu pun sudah jauh berkurang, terpakai untuk ongkos kereta, makan, dan keperluan lain sepanjang perjalanan.
Tiba-tiba seorang bapak setengah baya bergabung dalam percakapan kami. Namanya Pak Anom. Singkat cerita, Pak Anom menawarkan diri untuk menjadi guide kami. “Nggak usah bayar,” katanya. “Besok saya tunggu jam tujuh, ya.”
Petugas taman nasional pun setuju. Mereka bilang, “Ya sudah, biar diantar Pak Anom saja, pasti aman.”
Begitulah, keesokan harinya kami mendaki bersama Pak Anom. Bukan hanya menjadi guide, beliau juga membantu membawakan barang, memasak, bahkan memotret kami. Baiknya luar biasa. Rasanya, tanpa Pak Anom, kami mungkin tidak akan pernah sampai ke puncak Rinjani.

Dan kebaikannya tidak berhenti di situ.
Setelah turun gunung di Sembalun, Pak Anom mengajak kami mampir ke rumahnya di Senaru. Akhirnya kami nebeng mobil pick-up untuk kembali ke sana, menginap semalam, bertemu istrinya, dan disuguhi ayam bakar yang sangat enak. Rasanya seperti pulang ke rumah kerabat sendiri, padahal kami baru saja berkenalan.
Keesokan harinya, Pak Anom menemani kami ke air terjun Senaru dan berjalan-jalan ke rumah adat di sekitar Senaru. Setelah itu, barulah kami pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Mataram.
Namun cerita tentang kebaikan orang-orang yang kami temui rupanya belum selesai.
Di kapal feri dari Lombok menuju Bali, kami berkenalan dengan seorang pemuda yang mengaku orang Jawa dan tinggal di Denpasar. Setelah tahu kami hendak ke Denpasar, ia menawarkan kami menumpang mobilnya. Tanpa berpikir panjang, dengan keberanian khas anak muda yang sekarang rasanya sulit saya bayangkan lagi, kami langsung mengiyakan.
Malam itu kami nebeng mobilnya ke Denpasar, bahkan ikut menumpang menginap semalam di rumah Pria Jawa. Besoknya, ia menemani kami jalan-jalan ke Kuta dan Sanur. Random sekali. Kalau zaman itu sudah ada Instagram, mungkin kami sudah saling follow dan sesekali mengirim komentar di story.
#Orang Baik
Kalau melihat ke belakang, ada begitu banyak cerita random yang saya alami bersama teman-teman sejak masa kuliah, bahkan sampai hari ini. Alhamdulillah, semua itu terasa seperti rangkaian kebetulan baik yang terus muncul di saat yang tidak terduga.
Entah kenapa, saya seperti sering dipertemukan dengan orang-orang yang tulus menolong. Mudah-mudahan akan selalu begitu, dan mudah-mudahan saya juga bisa menjadi salah satu orang baik bagi orang lain.
Saya ingin menuliskan kisah-kisah itu satu per satu #Orang Baik, seperti kisah Ibu HR yang memberi saya tumpangan menginap di rumah beliau. Atau Aki Suparka yang tiba-tiba menawarkan untuk membeli mobil idaman kami dengan harga murah, bahkan membolehkan kami mencicilnya. Dan tentu saja, tentang banyak kebaikan lain yang mungkin dulu terasa biasa saja, tetapi tetap membekas di ingatan.
Mungkin memang seperti itu cara semesta bekerja. Kebaikan datang melalui orang-orang yang ditempatkan di waktu yang tepat. Dan barangkali, tugas saya sekarang adalah meneruskan kebaikan itu kepada orang lain.

Tulisan kedua di tahun 2026 untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog di bulan April 2026 : Cerita Random.


Memang dah disebutkan tagline “Orang baik ada dimana saja!” di awal, tapi tetep aja bacanya sambil deg2an 🫣😅
Alhamdulillah. Semoga kita selalu dikelilingi orang2 yang baik ya teh 🤗
Dulu mah ga kepikiran tentang bahaya Teh Alfi, jiwa muda bergelora sekaligus polos hehe.
Amin YRA, semoga kita selalu dikelilingi orang-orang yang baik.
Masyaallah…
Orang baik pada saat yang tepat. Bersyukur ya teh May.
Petualangannya seru banget.
Alhamdulillah pisan ini Teh Dewi, masa mudaku benar-berwarna, Mamiku bilang baong tapi bageur haha. Masih banyak cerita-cerita orang baik, InshaAllah mau nyicil ditulis.