Impulsive, Random atau ADHD, Perjalanan Mencari Jawaban

Sudah lama sebenarnya saya curiga ada sesuatu yang berbeda dengan cara otak saya bekerja. Mungkin bukan sesuatu yang buruk. Hanya berbeda dari kebanyakan orang.

Beberapa tahun terakhir, saya sering menemukan konten tentang ADHD di media sosial. Awalnya saya hanya membaca sekilas. Namun semakin banyak yang saya baca, semakin sering saya berpikir, “Lho, kok mirip ya?”

Tentu saja saya sadar bahwa membaca artikel atau menonton video tidak bisa menjadi dasar diagnosis. Namun ada pola-pola tertentu yang terus berulang dalam hidup saya dan akhirnya membuat saya penasaran untuk mencari jawaban.

Salah satu yang paling terlihat adalah kemampuan saya untuk fokus pada sesuatu yang benar-benar saya sukai.

Kalau sedang tertarik pada suatu hal, saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari, bahkan berminggu-minggu untuk mempelajarinya. Saya membuka puluhan artikel, menonton video, membuat catatan, mencoba praktiknya sendiri, lalu tenggelam dalam rasa ingin tahu yang sangat besar.

Pada saat seperti itu, rasanya dunia luar menghilang.Yang ada hanya saya dan topik yang sedang membuat saya penasaran.

Namun anehnya, kondisi itu sering kali tidak bertahan lama.

Beberapa hari, beberapa minggu, atau kadang hanya beberapa jam kemudian, minat itu bisa menguap begitu saja. Saya berpindah ke topik lain yang terasa lebih menarik. Lalu siklus yang sama kembali terulang.

Fokus. Antusias. Mendalami. Lalu lupa.

Kalau dipikir-pikir, tahun ini saja sudah banyak sekali contohnya.

Awal tahun, saya menerima permintaan beberapa teman untuk menyiapkan bekal makan siang harian. Tidak banyak, hanya untuk dua orang teman, ditambah saya sendiri. Selama lebih dari satu bulan saya sangat konsisten. Saya memasak setiap hari, memotret menu, menghitung kalori, dan mendokumentasikannya. Sampai-sampai saya membuat tagar khusus di Thread: #bekalkakmay.

Lalu datang bulan Ramadan. Aktivitas itu berhenti sementara. Setelah Ramadan selesai, muncul ide lain yang terasa lebih menarik: #warungibusari.

Konsepnya sederhana. Saya memasak makanan bertema tertentu dan mengajak teman-teman perempuan di kantor makan siang bersama. Menunya berganti-ganti. Kadang masakan Indonesia, Melayu, Korea, Italia, sampai Meksiko. Yang menarik, kegiatan ini bertahan cukup lama. Hampir setiap minggu selalu ada agenda Warung Ibu Sari, kecuali saat saya sedang banyak pekerjaan atau harus melakukan business trip.

Sampai akhirnya bulan Juli tiba. Saya ikut kursus sourdough. Dan, ya… itu berarti selamat tinggal Warung Ibu Sari.

Karena ada mainan baru bernama sourdough, hampir setiap akhir pekan saya sibuk memberi makan starter, mencoba resep baru, mengatur hidrasi adonan, dan tentu saja memanggang roti.Beberapa kali saya berencana mengadakan Warung Ibu Sari lagi. Namun pada akhirnya selalu kalah oleh jadwal baking.Kalau diperhatikan, polanya sebenarnya sama.

Fokus. Antusias. Mendalami. Lalu berpindah ke hal lain.

Dulu saya menganggap semuanya hanya bentuk rasa ingin tahu yang tinggi. Dan mungkin memang benar. Tetapi semakin bertambah usia, saya mulai menyadari bahwa pola tersebut juga membuat saya kesulitan menyelesaikan banyak hal secara konsisten.

Ide saya banyak sekali.

Awal tahun ini, misalnya, tiba-tiba saya ingin menghidupkan kembali Pomaci Kitchen. Saya membuka pre-order sambal dan, alhamdulillah, responsnya sangat baik. Dalam satu kali PO, saya bisa menjual sekitar 70 botol.

Lalu setelah itu? Saya bosan. Padahal sampai sekarang masih ada orang yang sesekali bertanya kapan saya membuka PO berikutnya. Begitu juga dengan berbagai keterampilan baru yang ingin saya pelajari. Tahun ini saja, selain sourdough, saya juga belajar membuat kombucha.

Ada pula proyek pribadi yang terus tertunda. Salah satunya menulis cerita perjalanan keluarga dan membuat photobook sebelum Cici berusia 18 tahun.Sampai hari ini, proyek itu belum selesai juga.Padahal di awal saya sangat bersemangat.

Saya bisa membayangkan hasil akhirnya dengan sangat jelas. Namun ketika rasa penasaran mulai menurun, semangat yang tadinya menggebu-gebu ikut menghilang.Banyak hal akhirnya berhenti di tengah jalan.

Bukan karena saya tidak mampu. Bukan karena saya tidak menyukainya. Namun entah mengapa mempertahankan perhatian dalam jangka panjang terasa sulit. Biasanya saya lalu mencari alasan yang paling mudah: “Lagi sibuk kerja.”

Mungkin memang ada benarnya. Namun saya mulai bertanya-tanya, apakah itu satu-satunya alasan?

Hal lain yang juga sering saya rasakan adalah mudah terdistraksi. Contohnya ketika harus mengikuti meeting yang sangat panjang. Kalau saya merasa kehadiran saya tidak terlalu krusial, sering kali saya mengerjakan pekerjaan lain sambil mendengarkan. Atau tiba-tiba membuka aplikasi chat dan mengobrol dengan teman tentang hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan meeting.

Lucunya, saya tetap bisa mengikuti isi pembahasan. Entah bagaimana, saya memang cukup terbiasa melakukan multitasking. Bukan hanya dengan tangan, tetapi juga dengan pikiran. Bukan sekali dua kali saya terlihat tidak fokus dalam meeting karena sedang mengerjakan hal lain. Namun ketika pertanyaan tiba-tiba diarahkan kepada saya, saya tetap bisa menjawabnya.

Salah satu junior saya bahkan pernah berkomentar, “Kak May itu brain-nya kayak punya banyak window yang jalan paralel.”

Saya tertawa mendengarnya. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin memang ada benarnya.

Tentu saja semua orang pernah mengalami hal-hal seperti ini. Saya juga menyadarinya. Namun saya merasa frekuensinya cukup sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itulah beberapa waktu lalu saya memutuskan untuk mencoba tes ADHD secara online. Bukan untuk mendiagnosis diri sendiri. Saya paham bahwa tes online tidak bisa menggantikan pemeriksaan profesional. Namun saya ingin mendapatkan gambaran awal apakah pengalaman yang saya rasakan memang memiliki kemiripan dengan gejala ADHD.

Saat mengerjakan tes tersebut, banyak pertanyaan yang terasa sangat relevan. Tentang kesulitan mempertahankan perhatian. Tentang mudah terdistraksi. Tentang kebiasaan menunda pekerjaan. Tentang kehilangan fokus ketika tugas tidak lagi terasa menarik. Tentang banyaknya pikiran yang berjalan bersamaan.

Berkali-kali saya bergumam dalam hati, “Eh, kok iya banget ya?”

Hasilnya menunjukkan adanya indikasi yang mengarah pada ADHD tipe inattentive atau kurang perhatian. Ketika membaca hasil tersebut, perasaan saya campur aduk.Di satu sisi, ada rasa lega. Mungkin ada penjelasan mengapa selama ini saya sering merasa berbeda dalam mengelola perhatian dan energi mental. Namun di sisi lain, saya juga berhati-hati untuk tidak buru-buru memberi label pada diri sendiri.Saya tidak ingin terjebak pada kesimpulan yang terlalu cepat.

Bagaimanapun juga, tes online hanyalah alat skrining awal. Banyak faktor lain yang perlu dipertimbangkan sebelum seseorang benar-benar mendapatkan diagnosis ADHD.

Karena itu, untuk saat ini saya memilih melihat hasil tersebut sebagai bahan refleksi. Saya mulai memperhatikan diri sendiri lebih seksama. Kapan saya bisa fokus dengan baik? Kapan perhatian saya mulai menghilang? Apa yang membuat saya termotivasi? Apa yang membuat saya menunda pekerjaan?.

Semakin saya mengamati, semakin saya menyadari bahwa memahami diri sendiri ternyata jauh lebih penting daripada sekadar mencari sebuah label.Entah nanti hasil akhirnya ADHD atau bukan, proses mengenali cara kerja pikiran sendiri sudah memberikan manfaat yang sangat besar.

Saya menjadi lebih memahami bahwa mungkin saya membutuhkan cara yang berbeda untuk mengatur pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.Saya juga mulai belajar untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri.Selama ini saya sering merasa bersalah ketika kehilangan minat terhadap sesuatu. Saya menganggap diri saya tidak konsisten atau kurang disiplin. Padahal mungkin ada faktor lain yang ikut berperan.

Sekarang saya mencoba melihatnya dengan lebih ramah. Alih-alih terus menyalahkan diri sendiri, saya belajar mencari strategi yang lebih sesuai. Membuat daftar tugas, memecah pekerjaan besar menjadi langkah-langkah kecil, menulis pengingat, serta mengurangi distraksi ketika bekerja. Dan yang paling penting, menerima bahwa fokus manusia memang tidak selalu sempurna.

Ke depan, saya berencana berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional agar mendapatkan penilaian yang lebih akurat. Saya ingin memperoleh jawaban yang lebih jelas, bukan hanya berdasarkan dugaan atau hasil tes online semata.Apa pun hasilnya nanti, perjalanan ini sudah mengajarkan satu hal penting: Mengenal diri sendiri adalah proses yang tidak pernah benar-benar selesai. Mungkin selama ini saya terlalu sibuk berusaha menjadi seperti orang lain. Terlalu sibuk mengejar semua target dan tujuan yang ingin dicapai.

Padahal yang lebih penting adalah memahami bagaimana cara terbaik menjalani hidup dengan versi diri kita sendiri.

Jadi, apakah saya ADHD? Sejujurnya, saya belum tahu. Kalau ternyata memang ADHD, setidaknya saya bisa belajar memahami dan mengelolanya dengan lebih baik. Kalau ternyata bukan, saya tetap mendapatkan sesuatu yang berharga dari perjalanan ini. Karena kadang-kadang, memahami diri sendiri adalah petualangan paling panjang, paling rumit, sekaligus paling menarik dalam hidup.

Tulisan ke-4 untuk Tantangan Mamah Gajah September 2026: Keputusan Kecil/Sepele yang Mengubah Hidup.

Leave a Reply