Kalau ada yang bertanya apa skill paling penting saat traveling, mungkin banyak yang akan menjawab kemampuan beradaptasi, manajemen waktu, atau kemampuan mencari promo terbaik. Tapi setelah beberapa tahun bolak-balik mengatur perjalanan keluarga, teman-teman dan juga menjalankan peran sebagai part-time travel organizer, saya punya jawaban lain: teliti sebelum menekan tombol “confirm“ atau “pay now“.
Sayangnya, teori itu sering kali kalah oleh rasa percaya diri dan hobby multi-tasking saya yang berlebihan. Karena merasa sudah terbiasa, saya kadang terlalu cepat mengambil keputusan tanpa melakukan pengecekan ulang.
Akibatnya? Saya punya cukup banyak koleksi “momen salah” saat traveling. Beberapa bikin panik, beberapa bikin dompet menangis, dan sebagian lagi menjadi cerita yang mengundang tawa saat dikenang …. sekarang !.
Dari sekian banyak kejadian, ada dua kesalahan yang paling membekas dalam ingatan saya.
Salah Pesan Tiket Pesawat : KB (Kota Bharu) vs KT (Kuala Terengganu)
Ceritanya berawal dari sebuah rencana perjalanan di bulan Mei 2025. Putri saya, Cici, akan mengikuti open water swim race di Kapas Marang, sebuah pulau di pantai timur , Malaysia. Seperti biasa, saya bertugas mengurus semua kebutuhan perjalanan, mulai dari tiket pesawat sampai hotel. Karena sudah terbiasa, di bulan April saya menyelesaikan semuanya dengan cukup cepat dan sambil meeting dong, multi-tasking. Tiket beres, hotel beres, dan terlupakan.
Sebetulnya kami hampir tidak jadi berangkat. Di bulan Mei pekerjaan di kantor sangat banyak. Di tambah lagi saya beberapa kali harus pergi business trip dan akhirnya terkena Covid di hari ulang tahun, tepat seminggu sebelum race. Di saat yang sama Cici juga sedang ujian IGCSE, tidak sempat training dengan baik untuk race ini. Selain itu tidak ada teman yang bisa di mintai tolong mengambil race pack. Rencananya kami memang baru berangkat di Jumat malam setelah ujian Cici yang selesai di jam 4 sore, race pack collection di hari Jumat sore dan race di hari Sabtu pagi.
Sampai akhirnya, di hari Kamis pagi ternyata ada seorang teman, Hazmi, ternyata akan ikut race juga dan dia bersedia mengambilkan race pack Cici, alhamdulillah. Melalui WA kami ngobrol sebentar dan Hazmi bertanya : Aunty, you stay at KB or KT ? dan saya jawab dengan percaya diri : most likely at Kota Bharu, so will travel to Marang early morning. Our flight ETA 9 PM. Dan Hazmi pun bertanya lagi : 9 PM on Friday ?
Dan saat itu karena ada meeting saya tidak sempat melanjutkan percakapan dengan Hazmi dan baru melihat HP lagi di sore hari. Walaupun saya sempat bertanya-tanya, kenapa Hazmi bertanya kami akan stay dimana ? Akhirnya saya scroll lagi percakapan saya dengan Hazmi, ternyata sebelum Hazmi bertanya saya stay dimana saya bertanya duluan dia stay dimana dan saya bilang kami akan stay di KB dan travel to Marang early morning dengan Grab.
Setelah saya baca lagi pelan-pelan saya baru sadar, no wonder Hazmi bertanya kami stay di KB or KT sampai 2x karena KB itu jauh banget dari Kapas Marang, sekitar 180 km jaraknya, beda provinsi. KB di Kelantan sedangkan KT di Terengganu.
Akhirnya saya sadar, ternyata saya salah pesan tiket pesawat. Bandara tujuan yang saya pesan ternyata bukan KT melainkan KB. Dalam kepala saya, kami akan naik pesawat, stay semalam di hotel dekat bandara dan pagi-pagi naik grab ke Marang yang jaraknya hanya sekitar 30 menit saja dari KT. Tapi saya salah beli tiket !
Bagi yang tidak familiar dengan wilayah pantai timur Malaysia, kedua kota ini memang tidak terlalu jauh jika dilihat di peta. Namun dalam konteks perjalanan kami, perbedaan itu sangat significant. Awalnya saya sempat mengira masih bisa diatasi dengan mudah. Saya membuka peta, menghitung jarak, lalu mulai menyadari kenyataan yang kurang menyenangkan. Saya harus mencari transportasi darat untuk melanjutkan perjalanan dari bandara Kota Bharu ke Marang.
Tentu saja, pilihan tercepat adalah menyewa mobil, naik grab di malam hari sangat beresiko, belum tentu ada driver grab yang bersedia mengantar kami ke Marang.
Saat itu saya benar-benar bersyukur Hazmi bertanya sekaligus menyesali kebiasaan memesan tiket terlalu cepat tanpa membaca detail tujuan dengan teliti. Nama kota yang sudah sering saya lihat membuat saya merasa tidak perlu melakukan pengecekan ulang.
Kami tidak ada pilihan lain selain naik pesawat ke KB, beli tiket baru ke KT bukan main mahalnya. Sayangnya lagi pesawat kami malam itu delayed, kami baru sampai di KB pukul 10 malam, mengambil mobil sewaan dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Marang. Jalanan sangat sepi, jarang sekali kami bertemu mobil lainnya.
Yang membuat situasi semakin menegangkan adalah rencana keesokan harinya. Kami harus naik kapal ke Pulau Kapas di pagi hari, artinya setiap menit waktu istirahat sangat berharga untuk Cici. Kami terus melaju dalam perjalanan malam dengan harapan bisa tiba secepat mungkin. Di dalam mobil, saya berkali-kali menghitung jam dan mencoba memperkirakan berapa lama lagi perjalanan akan berlangsung. Akhirnya kami tiba di Marang sekitar pukul 2:30 pagi.
Saya masih ingat perasaan saat itu. Lega karena akhirnya sampai tujuan, tetapi sekaligus merasa bersalah karena kesalahan sederhana saya telah membuat seluruh keluarga harus menjalani perjalanan yang jauh lebih melelahkan dari yang seharusnya.Begitu sampai hotel, proses check-in terasa sangat lama. Kami bergegas ke kamar dan pindah tidur. Beberapa jam kemudian alarm sudah kembali berbunyi dan kami bersiap menuju Pulau Kapas.
Hari itu menjadi pelajaran berharga. Untungnya semua berjalan baik dan Cici tetap bisa mengikuti race sesuai jadwal dan alhamdulillah bonus juara 1. Namun pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa dalam perjalanan, kesalahan kecil dari satu orang sering kali berdampak pada banyak orang.
Sejak saat itu, setiap kali memesan tiket pesawat, saya selalu punya ritual baru: mengecek kota tujuan minimal dua atau tiga kali sebelum pembayaran dilakukan.Karena ternyata satu klik yang salah bisa menghasilkan perjalanan ratusan kilometer yang tidak direncanakan.
Salah Pesan Tanggal Hotel : Kesalahan yang Terjadi Berkali-Kali
Kalau salah pesan tiket pesawat hanya terjadi sekali dan langsung memberikan efek jera yang cukup kuat, maka cerita tentang salah pesan tanggal hotel punya level yang berbeda. Karena ini bukan kejadian sekali.Bukan dua kali. Dan jujur saja, mungkin jumlahnya sudah terlalu banyak untuk dihitung.
Entah kenapa, hotel selalu menjadi bagian yang paling sering membuat saya terpeleset. Mungkin karena proses pemesanannya terasa lebih sederhana dibanding tiket pesawat. Kita cukup memilih hotel, menentukan jumlah tamu, lalu memilih tanggal. Pemesanan bisa dilakukan melalui aplikasi di handphone. Persis di situlah masalahnya.
Karena terlalu merasa sederhana, saya sering kali tidak memeriksa detail tanggal dengan benar. Kadang saya memesan satu bulan yang tepat tetapi tanggal yang salah.Kadang tanggalnya benar tetapi tahunnya yang tidak sesuai.
Pernah juga saat sedang membandingkan beberapa pilihan hotel, saya tanpa sadar melanjutkan pemesanan menggunakan tanggal yang sebelumnya hanya saya gunakan untuk simulasi harga. Yang lebih lucu, biasanya kesalahan ini baru ketahuan ketika hari keberangkatan sudah sangat dekat.
Momen-momen seperti itu selalu menghasilkan reaksi yang sama. Awalnya saya membuka aplikasi hotel dengan santai. Lalu beberapa detik kemudian wajah mulai berubah. Kemudian muncul kalimat yang sudah sangat familiar. “Eh, kok tanggalnya salah?”
Untungnya banyak hotel yang memiliki kebijakan perubahan reservasi yang cukup fleksibel. Namun tidak semua reservasi bisa diubah tanpa biaya tambahan. Beberapa kali saya harus mengeluarkan biaya ekstra hanya karena kurang teliti saat melakukan pemesanan. Kalau dipikir-pikir, kesalahan seperti ini sangat sederhana. Tidak ada teknologi rumit yang terlibat. Tidak ada sistem yang gagal. Semua terjadi murni karena faktor manusia. Tepatnya faktor saya haha.
Ketika Kesalahan Menjadi Cerita
Namun ada satu hal menarik yang saya pelajari dari pengalaman-pengalaman tersebut. Traveling tidak pernah benar-benar berjalan sempurna. Kita bisa membuat itinerary yang rapi, menyusun jadwal sampai ke detail terkecil, memesan semua kebutuhan jauh-jauh hari, dan mempersiapkan segala sesuatu dengan matang. Tetapi selalu ada kemungkinan muncul hal yang tidak sesuai rencana.
Kadang penyebabnya cuaca. Kadang keterlambatan penerbangan. Kadang kondisi lalu lintas. Dan kadang, ya karena kita sendiri salah menekan tombol saat booking. Seiring berjalannya waktu, saya mulai melihat momen-momen salah ini dari sudut pandang yang berbeda. Saat kejadian berlangsung, semuanya terasa stres. Jantung berdebar, otak bekerja ekstra mencari solusi, dan dompet sering kali menjadi korban.
Namun beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian, cerita yang justru paling sering dibicarakan bukanlah perjalanan yang berjalan sempurna. Yang paling sering dikenang adalah kejadian-kejadian kacau tersebut.Tentang bagaimana kami harus melakukan perjalanan darat tengah malam karena saya salah memilih kota tujuan.
Tentang bagaimana saya berkali-kali salah memesan tanggal hotel dan harus mencari cara untuk memperbaikinya.Tentang kepanikan yang waktu itu terasa sangat besar, tetapi sekarang justru terdengar lucu.
Mungkin memang seperti itu hakikat traveling. Bukan hanya mengumpulkan foto-foto indah dan daftar tempat yang berhasil dikunjungi, tetapi juga mengumpulkan cerita yang akan terus diceritakan lagi di kemudian hari.
Dan kalau boleh jujur, beberapa cerita terbaik justru lahir dari kesalahan-kesalahan yang tidak direncanakan. Jadi, kalau suatu hari Mamah melakukan kesalahan saat traveling, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Tentu, perbaiki kesalahan tersebut dan ambil pelajarannya. Tetapi jangan lupa menyimpan ceritanya juga ya. Siapa tahu beberapa tahun lagi, kesalahan yang hari ini terasa menyebalkan justru menjadi kenangan yang paling seru.
Tulisan ini dipersembahkan untuk Tantangan Mamah Gajah July 2026 : Momen Salah.

