Tambora, Ketika Letusan Sebuah Gunung Mengubah Dunia

Ada gunung yang kita datangi untuk menikmati pemandangannya yang cantik. Ada gunung yang kita daki untuk menguji kemampuan diri. Dan ada juga gunung yang setelah kita tinggalkan, ternyata terus melekat di ingatan. Buat saya, Tambora termasuk yang terakhir.

Sudah lebih dari dua ratus tahun berlalu sejak Gunung Tambora di Pulau Sumbawa meletus dahsyat pada April 1815. Letusan Tambora begitu besar hingga mengubah lanskap Pulau Sumbawa, memengaruhi kehidupan masyarakat di sekitarnya, dan bahkan mengubah cuaca di berbagai belahan dunia. Sejak membaca kisah Tambora saya sudah memantapkan hati, suatu hari saya akan mengunjunginya.

Siapa sangka kesempatan itu datang di bulan April 2015, tepat ketika dunia sedang memperingati 200 tahun letusan dahsyat tersebut. Waktu itu, tentu saja saya datang sebagai pendaki. Bukan sebagai vulkanolog, walaupun dulu ketika kuliah Geologi saya sangat menyukai Vulkanologi. Ada sesuatu yang terasa istimewa ketika akhirnya bisa berdiri di gunung yang selama bertahun-tahun hanya saya kenal dari buku, peta, dan cerita para dosen.

Perjalanan menuju Tambora pun khas perjalanan kami: tidak pernah benar-benar sederhana. Ada teman yang ketinggalan pesawat, ada bagasi yang tertinggal di Denpasar, perjalanan super panjang menuju Doropeti, dan tentu saja berbagai drama kecil yang pada saat itu terasa menyedihkan, tetapi sekarang justru menjadi bagian paling menyenangkan untuk dikenang. Termasuk bagian ketika kami sekeluarga digosipkan hilang di gunung haha.

Bukankah hampir selalu begitu dengan perjalanan ? Hal-hal yang paling kita ingat sering kali justru bukan itinerary yang sudah direncanakan dengan rapi, tetapi kejadian-kejadian random yang sama sekali tidak ada di dalam rencana.

Gunung yang Pernah Lebih Tinggi

Sulit membayangkan bahwa Tambora yang kita kenal sekarang sebenarnya adalah sisa dari gunung yang jauh lebih besar. Sebelum letusan 1815, puncak Tambora diperkirakan mencapai sekitar 4300 meter di atas permukaan laut. Setelah letusan, puncaknya runtuh dan ketinggiannya berkurang secara drastis hingga saat ini titik tertinggi Tambora hanya sekitar 2722 – 2851 m di atas permukaan laut.

Sebagian besar tubuh gunung seolah hilang dalam satu peristiwa geologi yang luar biasa.

Puncak letusan terjadi pada 10 April 1815, setelah aktivitas vulkanik yang sudah meningkat sejak beberapa hari sebelumnya. Letusan itu mencapai Volcanic Explosivity Index (VEI) 7, kategori yang menunjukkan letusan yang sangat besar.

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Tambora saat itu, tentu tidak ada satelit, seismograf modern, aplikasi peringatan bencana, atau media sosial. Yang ada hanyalah gunung yang tiba-tiba berubah menjadi sumber kegelapan, suara gemuruh, abu, panas, dan kehancuran. Dilaporkan ribuan orang meninggal akibat dampak langsung letusan. Lebih banyak lagi yang kemudian meninggal karena kelaparan dan penyakit setelah tanaman rusak, sumber air tercemar, dan kehidupan masyarakat menjadi kacau.

Tetapi ternyata cerita Tambora tidak berhenti di Sumbawa. Justru bagian paling luar biasa dari kisah ini adalah apa yang terjadi setelah abu dan material vulkanik meninggalkan Indonesia.

Ketika Tambora Mengubah Dunia
Material vulkanik yang sangat besar jumlahnya masuk ke atmosfer, termasuk sulfur dioksida yang kemudian membentuk aerosol sulfat di stratosfer. Aerosol tersebut menyebar dan mengurangi jumlah radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi.

Akibatnya, tahun 1816 dikenal sebagai The Year Without a Summer, tahun tanpa musim panas. Di berbagai wilayah belahan bumi utara, musim panas terasa sangat dingin. Salju turun pada waktu yang seharusnya merupakan musim panas. Hujan berlebihan merusak tanaman. Panen gagal dan harga pangan meningkat.

Pada tahun 1815, seseorang di Sumbawa mungkin sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa letusan gunung di halaman belakang rumahnya akan memengaruhi kehidupan seseorang ribuan kilometer jauhnya.
Tidak ada internet. Tidak ada penerbangan. Tidak ada globalisasi seperti yang kita kenal sekarang. Tetapi bumi sudah menunjukkan bahwa sebenarnya kita selalu terhubung.

Sebuah perubahan besar di satu tempat dapat meninggalkan jejak di tempat lain. Dan mungkin ini salah satu pelajaran Tambora yang paling menarik bagi saya.

Dua Ratus Tahun Kemudian
Dua ratus tahun setelah letusan itu, saya datang ke Tambora. Bukan untuk menyaksikan kehancuran. Justru sebaliknya. Yang saya temukan adalah kehidupan. Dalam perjalanan menuju Doropeti, kami melewati desa, ladang jagung, hutan, dan masyarakat yang hidup berdampingan dengan gunung tersebut.

Di pos pengamatan, anak-anak desa datang melihat rombongan kami. Mereka melambaikan tangan ketika kami berangkat. Saya masih ingat keinginan sederhana waktu itu: ingin sekali suatu hari kembali ke Doropeti membawa sesuatu untuk anak-anak yang menyambut kami. Entah kenapa, kenangan kecil seperti itu justru bertahan jauh lebih lama daripada detail perjalanan yang lain.

Perjalanan menuju puncak Tambora sendiri bukan perjalanan yang ringan, sebetulnya karena kami memilih jalur yang tidak biasa haha. Di hari pendakian kedua kami harus berjalan berjam-jam melewati hutan, hujan, lintah, jalan yang panjang, dan akhirnya tanjakan menuju kawasan kaldera. Rombongan pun terbagi menjadi beberapa kelompok.

Ada “tim atlet”, ada “tim seleb”, dan tentu saja ada “tim super seleb” yang berjalan mengikuti ritme Cici, anak kecil berusia 6 tahun yang saat itu bolos sekolah dan ikut mendaki bersama kami. Siapa sih orang tua yang tidak bertanggung jawab itu !

Pada akhirnya, perjalanan yang awalnya kami bayangkan sebagai pendakian biasa berubah menjadi perjalanan panjang yang sangat melelahkan. Saya masih ingat ketika Cici mulai kelelahan dan mengantuk. Kami sudah berjalan lebih dari dua belas jam. Hari sudah gelap, hutan semakin sulit dilalui, dan komunikasi dengan rombongan di depan mulai terputus.

Cici akhirnya digendong. Saya sendiri berjalan terus dalam gelap dengan headlamp, mengikuti tanda jalur yang kadang sulit terlihat. Saat itu saya hanya punya satu keinginan: sampai di camp malam itu juga. Saya ingin ketika Cici bangun keesokan paginya, dia melihat saya masih ada di sana.

Akhirnya, sekitar pukul satu dini hari, setelah kurang lebih 18 jam perjalanan, saya tiba di Camp 5. Lelah, lapar, dingin. Tetapi lega. Dan mungkin itulah salah satu alasan mengapa Tambora menjadi lebih dari sekadar sebuah gunung bagi saya.

Saya tidak hanya melihatnya sebagai objek geologi. Saya mempunyai cerita di sana.

Dari Letusan ke Kehidupan
Menariknya, kalau dipikir-pikir lagi, Tambora adalah cerita tentang kehancuran sekaligus kehidupan. Pada 1815, sebuah gunung menghancurkan dunia yang ada di sekitarnya. Tetapi dua ratus tahun kemudian, kita masih melihat kehidupan tumbuh di lerengnya.

Hutan kembali. Ladang kembali ditanami. Anak-anak kembali bermain. Orang-orang kembali membangun rumah dan kehidupan. Gunung yang pernah menyebabkan salah satu bencana vulkanik terbesar dalam sejarah manusia itu sekarang menjadi tempat orang datang untuk mendaki, belajar, menikmati alam, dan mencari pengalaman. Mungkin alam memang bekerja seperti itu. Ia bisa menghancurkan, tetapi juga memberi kesempatan untuk memulai kembali.

Sebagai orang yang belajar Geologi, saya seharusnya sudah terbiasa dengan konsep bahwa bumi selalu berubah. Gunung terbentuk. Gunung runtuh. Laut naik. Daratan tenggelam. Batuan hancur dan terbentuk kembali. Tetapi belajar tentang proses itu di ruang kuliah tentu berbeda dengan berjalan di atas sebuah gunung dan menyadari bahwa apa yang ada di depan mata kita adalah hasil dari sebuah peristiwa yang mengubah bentuk bumi secara luar biasa. Di Tambora, buku-buku Vulkanologi terasa hidup.

Kalau Tambora Bisa Bercerita
Kadang saya membayangkan, kalau Tambora bisa berbicara, apa yang akan diceritakannya? Mungkin ia akan bercerita tentang manusia-manusia yang tinggal di lerengnya lebih dari dua ratus tahun lalu.
Tentang malam-malam ketika suara gemuruh tidak berhenti. Tentang abu yang membuat siang menjadi gelap. Tentang orang-orang yang kehilangan rumah, keluarga dan sumber makanan.

Lalu mungkin Tambora akan bercerita tentang tahun-tahun setelahnya. Tentang hutan yang perlahan tumbuh kembali. Tentang masyarakat yang kembali bercocok tanam. Tentang anak-anak yang lahir jauh setelah letusan dan tidak pernah mengenal Tambora sebagai gunung yang menakutkan. Dan mungkin ia juga akan bercerita tentang kami.

Dua Ratus Tahun, dan Kita Masih Belajar
Kini sudah lebih dari dua abad sejak Tambora meletus. Dunia sudah berubah luar biasa. Kita punya satelit yang dapat mengamati gunung dari luar angkasa. Kita punya sistem pemantauan gunung api, teknologi komunikasi, model iklim, dan ilmu pengetahuan yang jauh lebih maju.

Tetapi Tambora tetap mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana: kita tidak pernah benar-benar bisa mengendalikan alam. Kita hanya bisa belajar memahaminya, menghormatinya, dan bersiap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang ada. Dan mungkin ada pelajaran lain yang lebih personal. Dua ratus tahun terasa sangat lama ketika kita melihatnya sebagai angka. Tetapi ketika kita melihat jejaknya di sebuah gunung, dua ratus tahun ternyata tidak terasa sejauh itu. Gunungnya masih ada. Kalderanya masih ada. Hutannya masih ada. Dan cerita tentang letusannya masih terus kita ceritakan.

Sementara kita? Kita datang, berjalan, mendaki, mengambil foto, lalu pulang. Beberapa tahun kemudian, foto-foto itu mungkin sudah tersimpan jauh di hard disk atau cloud. Detail perjalanan mungkin mulai lupa. Siapa yang berjalan paling depan, siapa yang paling lambat, siapa yang paling banyak mengeluh, semuanya perlahan menjadi kabur.

Mungkin itu sebabnya saya masih suka kembali mengingat Tambora. Bukan hanya karena ia pernah menjadi gunung yang meletus dahsyat pada 1815. Tetapi karena dua ratus tahun kemudian, saya pernah berjalan di atas jejak sejarahnya. Dan di sana saya belajar satu hal lagi: bumi menyimpan ingatan jauh lebih lama daripada manusia.

Kita mungkin hanya singgah sebentar. Gunung tetap tinggal. Menunggu seseorang datang lagi, melihat ke dalam kalderanya, lalu bertanya-tanya: Bagaimana mungkin sebuah gunung di Sumbawa pernah membuat seluruh dunia berubah? Jawabannya ada di sana. Di Tambora.

Mengenang sahabat kami Ruly Mardani yang telah berpulang karena sakit di tahun ini, salah seorang teman perjalanan di Tambora tahun 2015. Kakak kelas, teman mendaki gunung, rekan bekerja. Semoga Dyta dan anak-anak selalu dikuatkan. Selamat jalan Ruly.

Tulisan ini dipersembahkan untuk Tantangan Mamah Gajah bulan Oktober 2026 : Peristiwa Lampau yang Menyedot Perhatian.

One Reply to “Tambora, Ketika Letusan Sebuah Gunung Mengubah Dunia”

  1. Aku bisa merasakan betapa berkesannya Teh May bisa menjelajahi gunung Tambora karena sudah mendalami pengetahuan tentang gunung ini (di perkuliahan pula! Pastinya nggak sebatas pengetahuan populer)

    Aku terkesan juga sama pengalamannya naik gunung dengan anak-anak. Apa Cici memang sudah dibiasakan jalan jauh sejak kecil?

    Maafkan, Teh. Aku ngga sabar ingin baca tulisannya. Nanti aku baca ulang kalau udah ditambahin gambar 😀

Leave a Reply